Assalamu 'alaikum Wr. Wb
Dengan rahmat Allah SWT dan sebagai bentuk keterbukaan informasi Pengadilan Agama Klaten telah resmi meluncurkan website dengan alamat : www.pa-klaten.go.id untuk memenuhi surat Keputusan dari Ketua Mahkamah Agung Nomor : 144/KMA/SK/VIII/2007 tanggal 28 Agustus 2007 tentang keterbukaan informasi di Pengadilan di lingkungan Mahkamah Agung RI .Semoga bermanfaat dan berguna bagi semua pengguna dan pengakses tentang keterbukaan informasi website kami
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb

BERITA 1

Print

MENGUBUR ARUS INTOLERANSI

Written by admin pa klaten. Posted in Berita

 

BHINEKA

(Menjaga Kebhinekaan dalan Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Oleh : Drs. Agus Yunih, S.H., M.H.I

Secara historis, setidaknya ada dua peristiwa besar yang dapat menjadi landasan bagi kebhinekaan Indonesia, yaitu “Sumpah Palapa” (Gajah Mada) dan “Sumpah Pemuda” (1928). Esensi dari keduanya adalah semangat persatuaan dalam kebhinekaan yang kemudian ditegaskan lagi dalam Dasar Negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila.

Membangun kebhinekaan dan toletansi beragama tidak semudah membalik telapak tangan, itu semua harus dibangun dan diusahakan. Pada dasarnya penerimaan akan keberagaman tidak cukup sebatas peristiwa historis yang mengakui keberagaman tetapi itu semua harus dibangun melalui kebiasaan (latihan) oleh bangsa ini, karena sikap intoleransi dalam berbagai dimensi, seperti agama, suku ras, etnis secara subjektif telah terbangun oleh pemahaman yang subjektif oleh doktrin budaya dan agama masing-masing.

Dalam sebuah analisis mendalam berdasarkan data lapangan yang teruji. Charles Kimball mengemukakan bahwa terjadinya intoleransi ada dalam tiap agama. Fakta mencatat bagaimana tragedi Balkan, India, Myanmar, Iran, begitu juga Suriah merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri.

Terjadinya Intoleransi diakibatkan tekstuaslisme, pemahaman pembacaan atas Wahyu Tuhan terlalu teks. Dalam Nasrani munculnya Protestan di samping Katolik itu pun tak lepas dari pembacaan atas teks wahyu Tuhan. Sehingga terjadi perang sesama pengikut Kristus. Dalam Islam pun fenomena demikian tampak, seperti pertentangan Wahabisme vs Syiah yang tak berkesudahan seakan musuh abadi. Belum ormas-ormas berlabel agama.

Menurut catatan Nurcholis Madjid, sikap intoleransi berawal dari tekstualisme, dan klaim merasa paling benar. Atas dasar itu cacian, makian, fitnah, hujatan, bahkan bentrok fisik hingga pertumpahan darah atas nama Tuhan pun tak terhindari, begitu ujar Charles Kimball. Dari media kita mengetahui bagaimana arogansinya seorang Bush saat menginvasi Afganistan, begitu juga Irak, bukankah Bush menyebut itu perang suci mengatasnamakan Tuhan.

Memang teks dan symbol keagamaan  dapat dan telah digunakan untuk mendukung perang dan kekerasan. Akan tetapi, reinterpretasi terhadap teks juga dapat menciptakan etika dan spiritualitas baru yang menekankan hak-hak asasi manusia, toleransi, rekonsiliasi, kebebasan beragama, dan menghormati orang dari agama lain.

Perlunya perubahan pola dakwah, ataupun misionaris dalam mewartakan pesan Tuhan. Bahwa pesan Tuhan yang suci ada yang bersifat mengikat sepanjang masa (final and binding) ada juga yang bersifat dinamis dalam hal penafsiran disesuaikan konteks dan sosioculture. Ayat –ayat particular seperti dalam bahasan tafsir ada istilah ayat perang yang bersifat khusus terkait penomena kejadian saat itu dan di situ, tentu tidak mengikat ke masa depan yang berubah.

Jika berkaca pada sahabat utama, tabi’in serta para ulama mutakaddimin, sesungguhnya pembacaan atas teks itu sangat memperhatikan kontek tidak melulu teks. Bahkan para ulama merumuskan ajaran agama sesunggungya tak boleh keluar dari maqosidussyari’ah yang sangat dekat sekali kepada nilai kemanusiaan, demikian kata Asy Syathibi. Seperti;  kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan dari intimidasi, kebebasan memiliki kekayaan, dan kebebasan memiliki keturunan. Bahkan Najm ath Thufi yang juga sejalan dengan al Buthi, dalam pemikiran fikihnya menyatakan, “apabila ada nash qath’i sekalipun jika bertentangan dengan kemaslahatan, maka kemaslahatan harus dimenangkan dari nash (tekstual)”. Ini menjadi sangat menarik.

Figure centere (Tokoh Agama), muda’i dan para missionaries sudah sepatutnya hanya meneladani para Nabi utusan Tuhan; yaitu, menebar kasih, laksana Isa al-Masih, begitu juga Muhammad Al-Musthofa.

Dalam Budha ada Sidarta Gautama, begitu juga ajaran luhur dari Hindu juga Konghucu. Agar kaum atheis tak merasa menang karena baginya, agama hanya membawa petaka, sebagaimana begitu apiknya paparan Sam Harris dalam bukunya The end of Faith: Religion, Teror, and the Future of Reason.

Dengan demikian, kesetaraan dalam segala aspek kehidupan sangat diperlukan. Sebagaimana dalam sejarah Islam, pernah ada mekanisme yang dapat mencegah intoleransi antarkomunal dan memfasilitasi kehidupan bersama yang damai. Imperium multinasional – seperti Imperium Utsmani – adalah contoh mekanisme yang memungkinkan umat yang berasal dari berbagai agama hidup berdampingan dengan damai.

Ciri-ciri mekanisme ini yang terpenting adalah: perlakuan yang adil (fairness) terhadap agama-agama yang ada, status agama-agama  yang otonom atau semi otonom (secara politik, legal, kultural, dan keagamaan), tanpa campur tangan birokrasi imperium ke dalam urusan dan kehidupan internal setiap komunitas agama–yang penting mereka membayar pajak, menyetor upeti, dan memelihara ketertiban (Walzer 1997, 15).

Kunci dari itu semua juga tidak bisa dilepaskan dari ketidak adilan : baik ekonomi, sosial, hukum. Inilah penggalan puisi Gatot Nurmantio dalam Rapimnas Golkar di Balik Papan, Kaltim tanggal 22/5/2017 : “Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya, sangat luas sawahnya, tapi bukan kami punya; Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling, desa yang kaya raya, tapi bukan kami punya; lihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertata, ramai pasarnya, tapi bukan kami punya; lihatlah aneka barang, dijual belikan orang, Oh makmurnya, tapi bukan kami punya.”

Sikap dan prilaku para pemimpin politik dan sistem penegakkan hukum yang unequal dan tidak adil (unfairness), ketimpangan ekonomi sebagai awal bencana intoleransi di sebuah negeri. Demikian sejarah mencatat kehidupan bangsa-bangsa di dunia.

Untuk itu, kita patut meneruskan nilai luhur kemanusian seperti telah dilakukan Mahatma Gandhi, Bunda Theresia, Nelson Mandela. Di Indonesia ada Gus Dur, Ma Gedong. K.H. Maman Imanulhaq Faqih dan lainnya mereka gigih memperjuangkan kedamaian merangkul semua insan tanpa tersekat suku, ras dan agama. Mereka berbuat demikian karena menyadari sesungguhnya ajaran esensi agama adalah cinta pada sesama tanpa membeda-bedakan harkat dan kedudukan manusia. Pada dasarnya, sesungguhnya merekalah telah menemukan hakikat beragama yaitu memberi maanfaat bagi sesama, memelihara perdamaian. Dari itu mereka tak segan membela kaum minoritas yang tertindas, sepanjang membangun kebhinekaan dalam wanah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)yang berdasarkan Pancasila.

 

Tapi harus diingat, pemilik dan pengamal pancasila, bukan mereka yang mengumbar “akulah pancasilasis sejati, akulah NKRI” tapi amalannya tidak mencerminkan ucapannya.

Secara historis, setidaknya ada dua peristiwa besar yang dapat menjadi landasan bagi kebhinekaan Indonesia, yaitu “Sumpah Palapa” (Gajah Mada) dan “Sumpah Pemuda” (1928). Esensi dari keduanya adalah semangat persatuaan dalam kebhinekaan yang kemudian ditegaskan lagi dalam Dasar Negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila.

Membangun kebhinekaan dan toletansi beragama tidak semudah membalik telapak tangan, itu semua harus dibangun dan diusahakan. Pada dasarnya penerimaan akan keberagaman tidak cukup sebatas peristiwa historis yang mengakui keberagaman tetapi itu semua harus dibangun melalui kebiasaan (latihan) oleh bangsa ini, karena sikap intoleransi dalam berbagai dimensi, seperti agama, suku ras, etnis secara subjektif telah terbangun oleh pemahaman yang subjektif oleh doktrin budaya dan agama masing-masing.

Dalam sebuah analisis mendalam berdasarkan data lapangan yang teruji. Charles Kimball mengemukakan bahwa terjadinya intoleransi ada dalam tiap agama. Fakta mencatat bagaimana tragedi Balkan, India, Myanmar, Iran, begitu juga Suriah merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri.

Terjadinya Intoleransi diakibatkan tekstuaslisme, pemahaman pembacaan atas Wahyu Tuhan terlalu teks. Dalam Nasrani munculnya Protestan di samping Katolik itu pun tak lepas dari pembacaan atas teks wahyu Tuhan. Sehingga terjadi perang sesama pengikut Kristus. Dalam Islam pun fenomena demikian tampak, seperti pertentangan Wahabisme vs Syiah yang tak berkesudahan seakan musuh abadi. Belum ormas-ormas berlabel agama.

Menurut catatan Nurcholis Madjid, sikap intoleransi berawal dari tekstualisme, dan klaim merasa paling benar. Atas dasar itu cacian, makian, fitnah, hujatan, bahkan bentrok fisik hingga pertumpahan darah atas nama Tuhan pun tak terhindari, begitu ujar Charles Kimball. Dari media kita mengetahui bagaimana arogansinya seorang Bush saat menginvasi Afganistan, begitu juga Irak, bukankah Bush menyebut itu perang suci mengatasnamakan Tuhan.

Memang teks dan symbol keagamaan  dapat dan telah digunakan untuk mendukung perang dan kekerasan. Akan tetapi, reinterpretasi terhadap teks juga dapat menciptakan etika dan spiritualitas baru yang menekankan hak-hak asasi manusia, toleransi, rekonsiliasi, kebebasan beragama, dan menghormati orang dari agama lain.

Perlunya perubahan pola dakwah, ataupun misionaris dalam mewartakan pesan Tuhan. Bahwa pesan Tuhan yang suci ada yang bersifat mengikat sepanjang masa (final and binding) ada juga yang bersifat dinamis dalam hal penafsiran disesuaikan konteks dan sosioculture. Ayat –ayat particular seperti dalam bahasan tafsir ada istilah ayat perang yang bersifat khusus terkait penomena kejadian saat itu dan di situ, tentu tidak mengikat ke masa depan yang berubah.

Jika berkaca pada sahabat utama, tabi’in serta para ulama mutakaddimin, sesungguhnya pembacaan atas teks itu sangat memperhatikan kontek tidak melulu teks. Bahkan para ulama merumuskan ajaran agama sesunggungya tak boleh keluar dari maqosidussyari’ah yang sangat dekat sekali kepada nilai kemanusiaan, demikian kata Asy Syathibi. Seperti;  kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan dari intimidasi, kebebasan memiliki kekayaan, dan kebebasan memiliki keturunan. Bahkan Najm ath Thufi yang juga sejalan dengan al Buthi, dalam pemikiran fikihnya menyatakan, “apabila ada nash qath’i sekalipun jika bertentangan dengan kemaslahatan, maka kemaslahatan harus dimenangkan dari nash (tekstual)”. Ini menjadi sangat menarik.

Figure centere (Tokoh Agama), muda’i dan para missionaries sudah sepatutnya hanya meneladani para Nabi utusan Tuhan; yaitu, menebar kasih, laksana Isa al-Masih, begitu juga Muhammad Al-Musthofa.

Dalam Budha ada Sidarta Gautama, begitu juga ajaran luhur dari Hindu juga Konghucu. Agar kaum atheis tak merasa menang karena baginya, agama hanya membawa petaka, sebagaimana begitu apiknya paparan Sam Harris dalam bukunya The end of Faith: Religion, Teror, and the Future of Reason.

Dengan demikian, kesetaraan dalam segala aspek kehidupan sangat diperlukan. Sebagaimana dalam sejarah Islam, pernah ada mekanisme yang dapat mencegah intoleransi antarkomunal dan memfasilitasi kehidupan bersama yang damai. Imperium multinasional – seperti Imperium Utsmani – adalah contoh mekanisme yang memungkinkan umat yang berasal dari berbagai agama hidup berdampingan dengan damai.

Ciri-ciri mekanisme ini yang terpenting adalah: perlakuan yang adil (fairness) terhadap agama-agama yang ada, status agama-agama  yang otonom atau semi otonom (secara politik, legal, kultural, dan keagamaan), tanpa campur tangan birokrasi imperium ke dalam urusan dan kehidupan internal setiap komunitas agama–yang penting mereka membayar pajak, menyetor upeti, dan memelihara ketertiban (Walzer 1997, 15).

Kunci dari itu semua juga tidak bisa dilepaskan dari ketidak adilan : baik ekonomi, sosial, hukum. Inilah penggalan puisi Gatot Nurmantio dalam Rapimnas Golkar di Balik Papan, Kaltim tanggal 22/5/2017 : “Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya, sangat luas sawahnya, tapi bukan kami punya; Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling, desa yang kaya raya, tapi bukan kami punya; lihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertata, ramai pasarnya, tapi bukan kami punya; lihatlah aneka barang, dijual belikan orang, Oh makmurnya, tapi bukan kami punya.”

Sikap dan prilaku para pemimpin politik dan sistem penegakkan hukum yang unequal dan tidak adil (unfairness), ketimpangan ekonomi sebagai awal bencana intoleransi di sebuah negeri. Demikian sejarah mencatat kehidupan bangsa-bangsa di dunia.

Untuk itu, kita patut meneruskan nilai luhur kemanusian seperti telah dilakukan Mahatma Gandhi, Bunda Theresia, Nelson Mandela. Di Indonesia ada Gus Dur, Ma Gedong. K.H. Maman Imanulhaq Faqih dan lainnya mereka gigih memperjuangkan kedamaian merangkul semua insan tanpa tersekat suku, ras dan agama. Mereka berbuat demikian karena menyadari sesungguhnya ajaran esensi agama adalah cinta pada sesama tanpa membeda-bedakan harkat dan kedudukan manusia. Pada dasarnya, sesungguhnya merekalah telah menemukan hakikat beragama yaitu memberi maanfaat bagi sesama, memelihara perdamaian. Dari itu mereka tak segan membela kaum minoritas yang tertindas, sepanjang membangun kebhinekaan dalam wanah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)yang berdasarkan Pancasila.

Tapi harus diingat, pemilik dan pengamal pancasila, bukan mereka yang mengumbar “akulah pancasilasis sejati, akulah NKRI” tapi amalannya tidak mencerminkan ucapannya.

Leave your comments

0
terms and condition.
  • No comments found

Download from BIGTheme.net free full premium templates